Have You Used Internet Wisely?

Internet

Have_You_Used_Internet_Wisely
Have You Used Internet Wisely?
Sebagai seorang warga negara Indonesia yang baik, sudah seharusnya kita men download hal-hal yang baik pula. Seperti misalnya file MP3 lagu terbaru, e-book pelajaran dari DEPDIKNAS, atau free software yang bermanfaat. Tapi kok akhir-akhir ini saya semakin sering mengunjungi situs-situs parnografi dan mencoba men download beberapa free videos yang mereka sediakan. Apakah itu bermanfaat bagi saya? Bermanfaat atau tidak, yang jelas itu sekarang dianggap pelanggaran di mata hukum dengan adanya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi.

Seandainya laptop saya ini diperiksa oleh badan yang berwenang mengurusi RUU APP, mungkin sekarang saya udah masuk penjara. Pertanyaan di benak saya, apakah banyak orang lain yang punya laptop, komputer, atau bahkan handphone sama seperti saya? Kalau mereka semuda juga diperiksa, apakah penjara akan penuh dengan orang-orang seperti saya? Cukupkah seluruh penjara di Indonesia menampung kami semua? Saya rasa TIDAK.

Fakta dan Ironi

Di beberapa forum diskusi yang saya kunjungi, saya mengetahui fakta bahwa kebanyakan anak2 generasi muda bangsa Indonesia lebih suka menggunakan Internet untuk kepentingan eksplorasi pengetahuan mereka di bidang sex, dan cenderung memilih situs-situs sosial macam friendster , facebook, atau myspace sebagai situs favorit mereka. Kalaupun mereka sering membuka youtube untuk mencari atau melihat video, kebanyakan yang dicari juga seputar sex , hal-hal yang bersifat lucu, atau sekedar video iseng yang minim ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa perkembangan pola pikir generasi muda kita yang mengenal internet lebih cenderung menggunakannya sebagai alat untuk sosialisasi dan aktualisasi diri, serta tidak terlalu peduli dengan perkembangan situasi di sekitarnya ataupun pengembangan mental dan ilmu pengetahuannya..

Sedikit kabar gembira yang saya dapat adalah banyak juga netters muda yang memanfaatkan internet sebagai media untuk mencari lowongan kerja ataupun lowongan usaha. Kabar buruknya, itu justru merefleksikan bahwa terlalu banyak orang-orang di negara kita yang masih belum mendapatkan pekerjaan, mengingat kondisi ekonomi negara kita yang memang sedang dilanda krisis multi dimensional. (Gak tau dah nulis apaan ini, pake bahasa resmi pula, tapi udah terlanjur, jadi tak terusin aja yaa...). Tapi itu merupakan lagu lama yang tak kunjung ditemukan solusi konkrit nya oleh pemerintah.

Mungkin kita pernah mendengar cerita dari orangtua atau guru sejarah semasa masih bersekolah, tentang bagaimana jayanya negeri kita semasa berdirinya kerajaan MAJAPAHIT atau SRIWIJAYA yang pernah menguasai seluruh bagian nusantara hingga sebagian asia tenggara. Atau bagaimana kita pernah disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia ketika kita memiliki seorang presiden yang bernama Soekarno.

Namun itu semua tinggal cerita yang ada di buku sejarah, yang ada sekarang adalah kita menjadi sebuah bangsa dengan populasi besar yang justru diremehkan oleh negara2 tetangga semacam Malaysia dan Singapura, jutaan orang Indonesia merantau ke Malaysia untuk mengais ringgit dengan mayoritas menjadi buruh bangunan, perkebunan, atau sekedar pembantu rumah tangga. Bagaimana sedihnya kita melihat kesenian Angklung dan Batik diakui sebagai budaya asli bangsa Malaysia. Atau pasir-pasir di pulau2 kecil kita dikeruk untuk memperluas negara Singapura, bagaimana rasanya negara kita yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa memiliki anggaran militer yang jauh lebih kecil dari Singapura yang penduduknya kurang dari 5 juta jiwa?

Di tengah segala ketertinggalan ekonomi dan teknologi kita dari negara tetangga yang tidak lebih luas, tidak lebih kaya sumber daya alam, dan tidak lebih banyak penduduknya, generasi muda kita lebih senang menghabiskan waktunya di depan komputer untuk sekedar chatting dengan teman-temannya lewat yahoo messenger, menulis di kolom testimonial friendster seseorang, atau sekedar iseng mengetik kata BUGIL di kolom google, dan anak2 kecil pun duduk terpesona di depan televisi menonton si Naruto menghajar lawan-lawannya. Semuanya berbau kesenangan dan pemuasan diri, dan hanya sedikit waktu yang diluangkan untuk menjadi seorang pejuang nasionalis. Ironisnya lagi, mayoritas para pejabatnya yang bertugas melindungi, memajukan, dan mencerdaskan bangsa sibuk merancang sistem yang memungkinkan mereka untuk leluasa melakukan tindak pidana KORUPSI.

Tragisnya bangsa kita, Nak....

Pesan para pejuang kemerdekaan sebelum 1945: GUNAKAN TEKNOLOGI UNTUK MEMAJUKAN DIRI ANDA DAN BANGSA INI.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar