Pelajaran Hidup, Dasar Berpikir Tentang Bisnis

Pelajaran Hidup

Usai mengerjakan ujian akhir yang dulunya masih bernama EBTANAS (seingat saya), atau sudah UAN (Ujian Akhir Nasional), entahlah saya sudah lupa, saya tidak bisa mengikuti jejak teman-teman SMA saya yang mendaftar di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia, kebanyakan berlokasi di Pulau Jawa dan memiliki nama besar seperti misalnya Universitas Brawijaya di Malang, UGM di Jogja, ITB di Bandung atau UI di Jakarta misalnya. Setidaknya untuk mereka yang tidak ingin keluar daerah, teman-teman saya mendaftar di Universitas Mataram (UNRAM), sebuah universitas negeri di daerah asal saya.

Kebanyakan dari mereka yang mendaftar untuk ikut ujian di universitas bergengsi tersebut, juga mengikuti bimbingan belajar untuk menembus UMPTN. Yang sempat saya dengar dan ingat pada saat itu adalah Ganesha di Malang, dan di beberapa tempat lainnya. Sedangkan saya? No Idea. Orang tua saya sendiri, dalam hal ini ibunda saya Ni Ketut Rusmini, sebenarnya sudah menyuruh saya untuk kuliah saja di UNRAM, namun saya menolak dengan alasan tidak ingin membebani orangtua lagi. Saya merasa kasihan melihat beliau yang sudah banyak menanggung beban, harus ditambah lagi beban membiayai saya masuk kuliah. Sedangkan pada saat masih bersekolah SMA saja saya terkadang merasa tidak enak meminta uang saku dari beliau. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari pekerjaan saja. Toh juga banyak orang-orang yang bekerja dengan bermodalkan ijazah SMA saja. Itu sudah cukup untuk saya.

Dasar Berpikir Tentang Bisnis

Akhirnya saya menghubungi seorang paman, menantu dari nenek angkat saya yang biasa saya panggil Ninik Sri, yang memiliki usaha dagang buah-buahan di pasar buah Mandalika, dekat terminal Bertais, Lombok. Ia dan keluarga besarnya yang berasal dari Karangasem - Bali, menjalankan sebuah bisnis yang sangat bagus di Lombok. Paman saya itu bernama Om Pasek. Beliau adalah orang pertama yang mengajarkan saya tentang kehidupan yang sebenarnya diluar masa sekolah, dan membentuk pola dasar berpikir saya tentang bisnis. Penampilannya cukup sangar, dengan tattoo yang menutupi hampir seluruh badan hingga lengan. Namun dibalik penampilan yang sangar tersebut, ia adalah seorang pengusaha yang cukup sukses dalam lingkup lokal dan dalam pandangan pribadi saya.

Om Pasek membeli Jeruk dari Lumajang, Apel dan Malang, Salak dari Bali, Anggur dari Singaraja, dalam partai besar. Dan menjualnya di pasar buah Lombok kepada para pengecer yang akan menjualnya di seputaran kota Mataram. Dari sinilah bisnis buah itu berjalan.

Pagi subuh sekitar pukul empat, saya sudah berangkat menuju ke pasar untuk bekerja.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar