Bangsa Indonesia Adalah Bangsa Yang Besar, Tapi...


"Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong"
(Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)


Indonesia adalah sebuah bangsa yang teramat besar, dengan jumlah populasi rakyat terbesar nomor empat di dunia yang mencapai 246,9 juta (2012) dengan 1.340 suku dan 546 bahasa yang berbeda-beda, negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau (Pusat Survei dan Pemetaan ABRI/Pussurta ABRI), luas wilayah tanah air Indonesia -/+ 5.180.053 km2. Terdiri dari total luas daratan 1.922.570 km2, dan luas lautan 3.257.483 km2.

Bangsa China mampu mendominasi sektor ekonomi di berbagai belahan dunia dengan populasi terbesar nomor satu di dunia, namun mereka tidak memiliki luas laut yang sebesar Indonesia. Bangsa India yang juga berstatus negara berkembang sama seperti kita bahkan telah menyalip kita di bidang sains dan teknologi, industri film India termasuk pengusaha perfilman telah lama berkibar di negara kita. Amerika Serikat? Jangan ditanya, kita nyaris kalah dalam segala hal dengan bangsa tersebut. Baik dari segi ekonomi, sains, teknologi, militer, dan berbagai aspek lainnya. Kita bahkan dikalahkan oleh negara kecil semacam Korea Selatan dan Jepang, yang juga mendominasi perekonomian negara kita selayaknya China. Bahkan negara seperti Singapura dan Brunei Darusallam yang total luas negaranya tidak lebih besar dari Pulau Bali punya perekonomian yang lebih bagus dari negara kita. Negara-negara eropa semacam Inggris, Jerman, Belanda, dan Russia juga jauh lebih makmur dibandingkan negara kita, padahal kita tidak kalah banyak sumber daya alam dibanding mereka.

Sedemikian besarnya bangsa Indonesia, mengapa kita masih hidup sebagai negara yang inferior dari sekian banyak negara-negara lainnya yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia lebih sedikit dari bangsa kita?

Bung Karno pernah mengatakan "Jangan pernah melupakan sejarah..". Kita pernah menjadi bangsa yang superior, dulu pada zaman sebelum bangsa Belanda datang ke nusantara dan menjajah kita selama TIGA RATUS LIMA PULUH TAHUN. Dulu, sebelum masa penjajahan, pernah berdiri dua buah kerajaan bernama Sriwijaya dan Majapahit di nusantara yang wilayah kekuasaannya jauh hingga ke seluruh pelosok wilayah Asia Tenggara. Armada maritim kedua kerajaan tersebut sangat tangguh dan mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan milik bangsa lain di sekitar wilayah Nusantara. Hingga satu sebab meruntuhkan kita: "KITA KALAH CEPAT MENEMUKAN MESIU". Tombak dan panah kita tidak berdaya di hadapan peluru timah yang dilontarkan dari senapan dan meriam dengan serbuk mesiu. Hingga akhirnya kedua kerajaan tersebut runtuh dan bangsa kita harus tunduk kepada bangsa Belanda yang selanjutnya menjajah bangsa kita selama TIGA RATUS LIMA PULUH TAHUN lamanya. (sengaja saya tuliskan berulang-ulang dengan huruf besar dan dicetak tebal karena inilah awal dari kemunduran bangsa kita).

TIGA RATUS LIMA PULUH TAHUN bukanlah waktu yang singkat saudaraku. Jika satu generasi manusia hidup selama tujuh puluh tahun, maka kita telah dijajah selama LIMA GENERASI. Pikirkan itu!

Jadi selama lima generasi bangsa kita menjadi budak dari bangsa asing, khususnya bangsa Belanda. Selama lima generasi kita dijadikan bangsa pekerja. Mereka memaksa kita untuk menanam rempah-rempah dan menjual kepada mereka dengan harga murah dibawah todongan senjata. Para tuan tanah dan penguasa pada zaman penjajahan dibuai dalam harta dan tahta palsu yang diberikan oleh Belanda. Lima generasi bangsa kita telah dibodohi, dan diperbodoh dengan melarang rakyat kita mengeyam pendidikan. Nenek moyang kita telah menjadi bangsa yang bodoh akibat program pembodohan yang memang disengaja dan dirancang oleh bangsa Belanda untuk melanggengkan kekuasaan mereka atas bangsa kita. Nenek moyang terjajah itulah yang menjadi leluhur kita. Dan kita semua yang hidup sekarang adalah keturunan dari nenek moyang yang mengalami pembodohan tersebut. Selama kita dijajah, perkembangan bangsa kita terhenti dan leluhur kita tetap bodoh dan mengalami kemunduran, dan selama itu pula bangsa Eropa tetap mengalami kemajuan. Jadi logikanya, bangsa Indonesia tertinggal 350 tahun dari bangsa Eropa, karena penjajahan itu.

Kini sudah lebih dari empat ratus tahun sejak bangsa kita dijajah, dan sudah 69 tahun kita merdeka oleh proklamasi kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Bung Karno dan pada pejuang. Apakah kita sudah benar-benar merdeka dari penjajahan?

Jawabannya adalah TIDAK! Kita sama sekali belum merdeka seutuhnya. Bangsa kita kini menjadi bangsa yang bergantung kepada bangsa-bangsa lain, tidak punya kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri. Kita masih mengalami penjajahan, terutama di bidang ekonomi, yang akrab disebut dengan neo-kolonialisme atau imperialisme modern. Mari kita mulai satu persatu ketidakmandirian yang bangsa kita alami.

  1. Bangsa kita adalah bangsa maritime, dengan luas laut yang teramat besar. Kurang luas apa laut di negara kita? Apakah laut kita tidak ada ikannya? Tapi kita masih mengimpor ikan dari bangsa lain. Nelayan kita seharusnya mempunyai kapal yang bagus dan modern, dari hasil melaut yang melimpah, tapi kenyataannya mayoritas nelayan kita masih bekerja secara tradisional menyewa kapal milik cukong kapal, dan untuk melaut mereka berhutang solar kepada pengepul, kemudian hasil melaut kebanyakan habis untuk membayar sewa kapal dan membayar hutang solar. Yang kaya justru kapal-kapal asing berbendera Indonesia yang merampok hasil laut kita, jutaan ton ikan kita diambil dan dinikmati oleh mereka. Tidak percaya? Baca berita ini: Ambil dari Laut RI, Thailand Jadi Raja Eksportir Tuna di Dunia. Lebih miris lagi, kita juga mengimpor sebagian garam meja beryodium. Segitu luasnya laut Indonesia, kita bahkan tidak sanggup mengolahnya untuk menjadi garam meja beryodium. Luar biasa bodohnya!
  2. Bangsa kita punya makanan pokok yang dikonsumsi oleh mayoritas rakyat Indonesia: NASI. Dengan luas daratan yang bisa dijadikan persawahan dan lahan pertanian, kenyataannya kita masih mengimpor beras dalam jumlah besar dari negara asing. Tidak percaya? Silakan baca kasus tentang impor beras dari Vietnam, lalu Anda bandingkan luas negara Vietnam dengan luas negara Republik Indonesia. Lalu kenapa bangsa Indonesia yang BESAR ini justru mengimpor beras dari negara seperti Vietnam? Dimana letak kesalahannya? Kurang luas bagaimana lahan di Indonesia? Masih kurang murah kah harga pupuk di Indonesia? Seharusnya petani-petani beras kita punya sawah yang berhektar-hektar, punya traktor sendiri untuk membajak sawahnya, tidak perlu mewah-mewah seperti bangsa Amerika yang petaninya memakai pesawat baling-baling untuk menebar pupuk. BORO-BORO! Yang ada petani di Indonesia kebanyakan tidak punya sawah sendiri, mereka menggarap sawah milik orang lain, yang notabene tuan tanah. Itupun mereka membeli pupuk impor, mengingat pupuk bersubsidi sering langka di pasaran. Alat-alat yang mereka gunakan? Jangan bermimpi setinggi pesawat terbang, mereka masih memakai cangkul dan membajak sawah sewaannya dengan menggunakan kerbau. Ujung-ujungnya swasembada beras hanya bualan pemerintah saja, bangsa Indonesia tetap menggantungkan makanan pokoknya dari bangsa lain seperti Vietnam dan Thailand. Hancur Indonesiaku ini, menghasilkan beras untuk dimakan rakyatnya saja tidak sanggup.
  3. Di bidang tekstil (sandang), pakaian yang kita pakai sehari-hari, seragam yang kita gunakan sehari-hari, mayoritas berasal dari kain tekstil yang diimpor dari China. Kabar buruknya, bahkan kita sudah mengimpor BATIK dari China. Luar biasa bukan?
  4. Di bidang Teknologi dan Perindustrian, berikut ini adalah ketertinggalan bangsa kita yang wajib kita kejar:
    - Industri teknologi, tidak usah bermimpi LAPAN bisa sekelas NASA, karena memang kita sudah tertinggal 353,5 tahun dari mereka. Kita belum bisa seperti Amerika, Russia, China yang sudah mengirim Astronot, Kosmonot, atau Taikonot ke luar Angkasa, yang mengartikan bahwa teknologi mereka sudah berada di level langit antariksa, tidak lagi berkutat di bumi. Tapi ketika Malaysia berhasil mengirim astronot pertama mereka ke luar angkasa, maka kita patut terhenyak. Oke teknologi di bidang otomotif mereka memang lebih dahulu maju meninggalkan bangsa kita karena mereka mampu memproduksi mobil dengan merk asli Malaysia: PROTON, dan bahkan mereka rutin menggelar balapan formula satu F1 di Sepang. Tapi ketika mereka sudah melangkahi kita jauh ke luar angkasa, kita patut bertanya-tanya: Kenapa mereka bisa dan kita masih belum mampu? Baiklah, kita maklumi kalau kita masih belum sanggup memikirkan luar angkasa dan antariksa, karena memikirkan bagaimana memproduksi beras untuk dimakan bangsa sendiri saja kita masih belum mampu.
    - Industri otomotif:

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar