Real Madrid Raih La Decima, Cristiano Ronaldo Cetak Rekor

REAL MADRID CLUB DE FÚTBOL atau Real Madrid berhasil meraih title La Decima yang selama dua belas tahun mereka nantikan dengan menjuarai kompetisi Liga Champions Eropa musim 2013-2014 setelah mengalahkan klub sekota Atletico Madrid di laga final yang digelar di Estádio do Sport Lisboa e Benfica, da Luz, Lisboa - Portugal, pada Minggu (25/05/2014) dini hari tadi. Setelah tertekan sepanjang pertandingan 2 x 45 menit oleh gol Diego Godín pada menit ke-36', Madrid berhasil bangkit secara sensasional usai gol penyama kedudukan yang lahir di detik akhir pertandingan melalui sundulan Sergio Ramos di menit 90'+3. Usai gol Ramos, Atletico seperti menyerahkan gelar juara kepada Madrid dengan memberikan tiga gol tambahan yang membuat skor menjadi 4-1 untuk kemenangan Real yang sekaligus mengukuhkan status mereka sebagai klub dengan gelar juara Liga Champions Eropa dengan jumlah total sepuluh gelar.

Pada pertandingan final yang digelar di Portugal ini nampaknya stadion diisi lebih banyak pendukung Atletico karena seisi venue penuh dengan warna merah ciri khas Atletico, namun itu juga kemungkinan karena pendukung Madrid yang tersebar banyak menggunakan jersey putih sehingga stadion terlihat seperti merah putih suporter Atletico Madrid.

Awal kejutan pada laga ini sudah dimulai pada menit kesembilan dari pergantian pemain di kubu Atletico yang tidak terduga, Diego Costa, striker andalan mereka yang telah mencetak total delapan gol di Liga Champion musim ini terpaksa ditarik keluar oleh pelatih Atletico Diego Simeone karena gangguan cedera dan digantikan oleh striker muda Spanyol, Adrián. Pada menit ke-36' petaka muncul bagi pertahanan Real Madrid akibat dari kesalahan kiper legendaris Iker Casillas yang terlanjur maju untuk menghalau bola, namun ternyata Khedira kalah beradu lompatan dengan Diego Godin dan bola melambung ke arah gawang Madrid. Santo Iker yang sudah mati langkah berlari cukup cepat ke belakang untuk kembali menepis bola, namun bola terlanjur dinyatakan masuk ke dalam gawang Madrid. Skor 0-1 untuk keunggulan Atletico Madrid

Madrid berusaha membalas namun Atletico bermain sangat solid, bahkan beberapa kali sempat mengancam gawang Casillas. Kiper Atletico asal Belgia yang dipinjam dari klub Inggris Chelsea, Thibaut Courtois, tidak mendapatkan ancaman yang begitu berarti sehingga tidak terlalu banyak bersusah payah menghalau bola yang meluncur ke gawangnya. Skor 0-1 bertahan hingga istirahat turun minum.

Di awal babak kedua pertandingan yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi SCTV ini terpotong lima menit akibat dari penayangan iklan yang terlalu lama dan masih ditambah lagi dengan komentar dari pembawa acara Donna Agnesia dan komentator Coach Timo Scheunemann, pemirsa terpaksa menonton pertandingan babak kedua dimulai dari menit ke-50'. Madrid terus melancarkan serangan pada second half tapi pertahanan Atletico masih terlalu tangguh untuk ditembus oleh barisan penyerang mahal milik Real Madrid. Pemain eksplosif Madrid, Angel Di Maria sempat beberapa kali mendribel bola dan sukses menembus barisan pertahanan Atleti namun nampaknya Diego Simeone menginstruksikan anak buahnya untuk bermain keras dan tidak ragu menghentikan lawan dengan tekel dari belakang sekalipun karena sadar betapa bahayanya Madrid apabila berhasil lolos dari pengawalan, sekalipun harus mendapatkan kartu kuning. Raúl García dan Miranda adalah dua orang pemain Atletico yang harus mendapatkan kartu kuning akibat tekel dari belakang yang dilancarkan terhadap Angel Di Maria ketika ia berhasil lolos dari pengawalan barisan pertahanan Atleti. Simeone tampaknya sudah belajar dari kekalahan Barcelona yang sudah lebih dulu merasakan kecepatan Gareth Bale ketika beradu sprint dengan bek-bek di La Liga Spanyol. Pemain Madrid pun di-pressing seketat itu nampak seperti bermain tanpa arah dan mentalnya terlanjur jatuh akibat dari gol pertama yang hadir dari kesalahan sendiri.

Pelatih Madrid Carlo Ancelotti kemudian mencoba menambah daya gedor dengan memasukkan dua pemain sekaligus pada menit ke-59', Marcelo untuk menggantikan Fábio Coentrão yang bermain terlalu agresif, dan Isco untuk menggantikan Sami Khedira yang bermain kurang maksimal dan menjadi penyebab gol pertama Atletico. Masuknya Marcelo dan Isco terbukti mengubah jalannya permainan, terutama Marcelo yang malam itu bermain sangat cemerlang dan bersemangat, sanggup mengcover pertahanan Madrid dengan lugas dan sekaligus aktif membantu serangan dengan maju menyisir sayap kiri untuk mencari peluang. Sebuah pergantian yang brilian dari pelatih berpengalaman sekelas Don Carlo.

Melihat situasi tersebut Diego Simeone tidak tinggal diam dengan memasukkan gelandang José Ernesto Sosa untuk menggantikan Raúl García 66' yang sudah mendapat kartu kuning sebelumnya akibat menghentikan laju Di Maria dengan tekel dari belakang. Sepertinya dia tidak ingin anak buahnya yang sudah unggul menjadi pincang akibat kartu merah. Menyusul pada menit ke-79' Álvaro Morata masuk untuk menggantikan Karim Benzema yang seolah mati kutu akibat ketatnya pengawalan dari bek-bek Atletico, dimana pressing ketat senantiasa dilakukan setiap kali pemain depan Madrid sedang menguasai bola.

Pendukung Real yang disorot kamera sudah nampak cemas akan sirnanya mimpi juara setelah terakhir kali menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 2002 berkat gol spektakuler Zinedine Zidane ketika melawan Leverkusen. Zidane sendiri hadir pada malam itu sebagai asisten pelatih Carlo Ancelotti dan berulang kali wajahnya disorot kamera, ia terlihat begitu cemas di bangku pelatih. Jika skor tidak berubah hingga laga selesai, maka mereka harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapat kesempatan tampil di Final yang memang sangat sulit diraih selama sepuluh tahun ke belakang. Sebaliknya pendukung Atletico sudah terlihat senang dengan raut wajah tersenyum melihat waktu yang sudah menginjak menit ke-80' dan skor masih 0-1 untuk keunggulan sang underdog.

Pergantian terakhir kemudian dilakukan oleh Simeone dengan memasukkan bek asal Belgia Toby Alderweireld untuk menggantikan bek Atleti asal Brazil Filipe Luis yang nampak sudah kehabisan tenaga untuk mengimbangi kecepatan pada punggawa Real pada menit ke-83'. Dilihat dari pergantian ini, sepertinya strategi Diego Simeone atau yang akrab dijuluki El Cholo adalah menyegarkan pertahanan untuk bermain defensif mengamankan keunggulan Atletico yang hanya berjarak kurang dari sepuluh menit untuk mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah sepakbola Eropa. Namun publik tidak boleh lengah, karena sepakbola belum usai hingga wasit meniup peluit terakhir tanda pertandingan sudah selesai.

Dan benar, keajaiban pun terjadi pada menit-menit akhir pertandingan dengan gol yang mengejutkan semua orang. Berawal dari tekanan bertubi-tubi yang dilancarkan Real ke arah pertahanan Atletico, pada menit ke-90'+3 perpanjangan waktu injury time Madrid mendapatkan sebuah sepak pojok yang dimanfaatkan Luca Modric untuk mengirimkan umpan ke depan gawang Atleti. Sergio Ramos yang melompat berhasil menyundul bola umpan Modric dan bola meluncur tajam ke pojok kanan gawang Courtois. Gol, bola gagal ditepis oleh Courtois dan seisi stadion kembali bergemuruh, menghadirkan mimpi buruk yang paling buruk bagi Atletico Madrid dan membuat pendukung Real bisa kembali bermimpi indah tentang La Decima. Casillas bahkan harus berterima kasih karena gol Ramos tersebut menyelamatkan nasib Real sekaligus Iker karena apabila kalah maka kesalahan ada pada diri sang kiper kesayangan fans Madrid itu, dalam tayangan ulang terlihat berulang kali Casillas memeluk dan mencium pipi sahabatnya itu.

Skor pun berubah menjadi 1-1 pada waktu normal 2x45 menit. Pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu atau extra-time.

Pada babak pertama perpanjangan, Real seperti bermain di atas angin dan semakin agresif mengejar kemenangan, sementara Atletico sebaliknya seperti sudah kelelahan dan giliran tertekan akibat mental yang jatuh setelah gol penyama kedudukan yang sangat tidak disangka oleh semua orang. Namun setelah jual beli serangan, babak ini harus tetap diakhiri dengan skor imbang 1-1. Usai babak perpanjangan babak pertama, pelatih Atletico bahkan harus segera berlari ke tengah lapangan untuk menghalau para pemainnya yang mengerubungi wasit Björn Kuipers yang diprotes atas kepemimpinannya pada laga ini.

Disaat kedua tim sudah mempersiapkan diri untuk menjalani babak adu pinalti, ternyata dewi fortuna tersenyum kepada Real Madrid. Sebuah gol penentu yang kedua kalinya hadir untuk Real pada menit ke-110' melalui kepala pemain termahal dunia saat ini Gareth Bale. Berawal dari dribling Angel di Maria menusuk ke dalam kotak pinalti, ia melepaskan sebuah tembakan yang gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Thibaut Courtois. Bola kemudian memantul ke arah Gareth Bale yang berlari ke tiang jauh dan segera menyundul bola masuk ke dalam. Kali ini Real Madrid unggul 2-1 atas Atleti. Untuk Gareth Bale, gol ini seakan menjadi pembuktiannya yang kedua kali setelah ia juga mencetak gol penentu kemenangan Real Madrid pada laga final Copa Del Rey melawan Barcelona di kompetisi domestik Spanyol. Usai gol ini, pendukung Real sempat ketar-ketir akibat ulah sang penjaga gawang Iker Casillas yang kembali maju untuk menghalau bola. Beruntung saja tendangan pemain Atletico melambung dan tidak berhasil mengulangi kejadian di babak pertama. Pemain-pemain Real segera menuju Iker untuk menegurnya, bahkan Marcelo sempat berteriak marah kepadanya. Iker hanya tersenyum ketika ditegur kawan-kawannya.

Mental pemain Atletico yang sudah jatuh kembali harus rubuh lebih dalam lagi delapan menit kemudian, dan segera dimanfaatkan oleh Marcelo yang sama sekali tidak terkawal dan bebas melepaskan tendangan ke gawang Thibaut Courtois di menit ke-118'. GOL! Skor 3-1 ini semakin membenamkan Atletico Madrid ke dasar jurang dan seakan mengesahkan gelar kesepuluh Madrid sudah berada di tangan. Marcelo bahkan sampai menangis saking emosionalnya usah mencetak Gol. Bek kiri asal Brazil ini kemudian mendapatkan kartu kuning atas tindakannya melepaskan baju seragam (jersey) saat merayakan golnya.

Derita Atletico tidak terhenti sampai disitu, pada menit ke-120', Real Madrid mendapatkan hadiah penalty usai Cristiano Ronaldo dijatuhkan oleh Diego Godin di dalam kotak terlarang. Diego Godin kemudian mendapatkan kartu kuning, namun dari tayangan lambat menunjukkan bahwa Ronaldo terjatuh setelah kaki sang kapten Atleti, Gabi, menyentuh kaki CR7. Dan seperti yang diperkirakan, Cristiano Ronaldo tanpa kesulitan menaklukan Thibaut Courtois, dan mencetak gol yang menggenapkan kemenangan Real menjadi 4-1. Dengan gol ini, Cristiano Ronaldo telah mencatatkan namanya ke dalam buku sejarah sepakbola Eropa dengan mencetak rekor total 17 gol dalam satu musim kompetisi Liga Champions. Belum ada pemain lain di Eropa yang mampu melakukan itu, kalaupun ada, hanya Radamel Falcao yang mencetak 17 gol untuk FC Porto, tetapi itu di ajang yang lebih rendah, Liga Europa. Selain itu CR7 juga berhasil menyamai torehan gol Lionel Messi yang berjumlah 67 gol sepanjang karirnya di Liga Champions. Sungguh luar biasa kehebatan penyerang terbaik dunia ini.

Sebelum peluit resmi ditiup sebagai tanda berakhirnya pertandingan, terjadi keributan di tengah lapangan yang melibatkan pelatih Diego Simeone dengan pemain belakang Real asal Perancis, Raphael Varane. Diego tampak berlari ke tengah lapangan untuk mengejar Raphael Varane dan dihalangi oleh Sergio Ramos dan Iker Casillas. Ofisial Atletico juga sibuk menarik pelatih muda itu untuk kembali ke tepi lapangan. Raphael tampak mengucapkan kata-kata kasar kepada sang pelatih tim lawan, dan untuk itu ia sempat dimarahi oleh Marcelo dan Sergio Ramos.

Setelah keributan berakhir, pertandingan segera dilanjutkan dan hanya sebuah formalitas, Wasit Björn Kuipers asal Belanda langsung meniup peluit panjang tanda pertandingan Final Liga Champions Eropa musim 2013-2014 sudah berakhir dan dimenangkan oleh Real Madrid dengan skor telak 4-1.

Pemain, Pelatih serta Ofisial Real Madrid berhamburan ke tengah lapangan untuk merayakan dan pemain Atletico tertunduk lesu meratapi kegagalannya. Kemenangan Madrid malam ini menorehkan sejarah atas nama mereka selaku satu-satunya klub yang mampu menjuarai Liga Champions Eropa terbanyak diantar klub lainnya, yakni sepuluh kali. Mimpi fans dan presiden Madrid Fiorentino Perez menjadi kenyataan untuk melihat Madrid meraih La Decima. Cristiano Ronaldo mencetak rekor sebagai pemain yang mencetak gol paling banyak dalam satu musim kompetisi yakni sebanyak 17 gol, sekaligus menambah total golnya di Liga Champions menjadi 67 buah. Sementara pelatih Carlo Ancelotti berhasil menyamai rekor Bob Paisley sebagai pelatih dengan gelar liga Champions terbanyak yaitu sejumlah 3 gelar.


Akhir kata, selamat untuk Real Madrid. HALA MADRID!!!
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar