Popular Post

Technology

Bingung Memilih Laptop Gaming Murah Part I

Laptop Gaming

Di pekan ini, saya berencana untuk menjual rig PC Gaming desktop saya lalu menggantinya dengan laptop saja dengan alasan hemat energy plus lebih ringkas. Setelah menikah dan memiliki anak, kegiatan saya bermain game memang tereduksi jauh dibandingkan saat masih bujang dulu yg bisa semalaman bermain game di depan komputer sampai dini hari.

Terlebih lagi komputer yg hidup lama memakan cukup banyak daya listrik sehingga tagihan listrik di rumah kami membengkak sebagai akibat dari naiknya tarif dasar listrik untuk pelanggan PLN dengan kapasitas daya diatas 1.300watt. Sehingga mau tidak mau, saya harus mencari laptop yg harganya murah tetapi punya performa yg tidak terlalu mengecewakan sebagai pengganti komputer di rumah.

Spesifikasi dan Harga

Oleh karena men-sortir deretan laptop berdasarkan CPU serta GPU yang digunakan terasa lebih sulit, maka untuk gampangnya saya akan mensortir pilihan melalui kapasitas RAM terlebih dahulu. Sebagai informasi, saya hanya akan membeli laptop dengan spesifikasi berikut: kapasitas RAM 4 sampai dengan 8 GB demi menjaga kelancaran multi-tasking, GPU Intel / AMD empat inti (quad-core) dengan kecepatan tidak kurang dari 2.0GHz (bukan up to xxx GHz), dan GPU terpisah (kalaupun integrated harus lebih bagus dari GPU separated / VGA Card, contohnya Intel HD 4400 atau AMD R7). Alasannya tentu demi mengejar performa laptop agar cukup baik dalam menjalankan game ketika saya rindu dengan aktivitas di depan monitor, walaupun tidak bisa dengan setting tertinggi, minimal fps (frame-per-second) yg didapat sudah cukup memuaskan plus tidak terjadi lag. Untuk ukuran serta resolusi layar, saya rasa tidak menjadi masalah berarti karena saya yakin produsen laptop tidak akan menyia-nyiakan spek tinggi dengan memasangkannya ke monitor jelek atau resolusinya minim.

Bingung_Memilih_Laptop_Gaming_Murah
Bingung memilih laptop gaming termurah? Mari kita cari sama-sama di artikel ini.

Lalu berapa budget yg saya sediakan? Tentunya tidak akan melebihi hasil penjualan PC gaming yg akan dijual. Seandainya kalau PC saya dijual lalu mendapatkan (dengan asumsi dijual terpisah alias "ketengan") Rp 1 juta dari processor, Rp 1 juta dari VGA, 400rb dari MoBo, 500rb dari PSU, 1,2jt dari dua buah hardisk HDD 2TBx2, dan 1,5jt dari SSD, plus 1jt dari casing plus monitor, maka saya akan memiliki budget sekitar Rp 6.600.000,-. Dengan limit harga seperti ini saya akan kesulitan untuk mendapatkan laptop gaming terbaik dengan harga paling murah, sebab spek tinggi di laptop biasanya berharga hampir dua kali lipat lebih mahal dari versi desktop. Tetapi saya tidak ingin putus asa sebelum mencoba mencarinya terlebih dahulu.

GPU

Kita semua sudah tahu bahwa tidak mungkin untuk mengharapkan performa GPU di laptop akan mampu menyamai kinerja VGA Card di dekstop PC rakitan (utamanya dalam kelas serta rentang harga yg sama / mirip-mirip). Kecuali jika kita sedang berbicara tentang true laptop gaming seperti MSI GT72 2QE Dominator Pro, Xenom Hercules HC17S-X2-DL02, atau Gigabyte Aorus X7-V2 Pro, yg harganya diatas 30 juta rupiah, maka segera tinggalkan artikel ini.

Oleh karena budget yg terbatas, maka cukuplah GPU yg tidak jelek-jelek amat bila saya ingin membeli sebuah laptop gaming dengan harga murah. Saya tertarik dengan GPU NVidia GeForce 840M, karena adiknya 820M kelasnya masih setara dengan GPU terintegrasi milik Intel (HD 4400) atau AMD R7. Tetapi dengan demikian, secara otomatis harga laptop yg diincar akan berada di kisaran 8 sampai 10 juta rupiah.

"Laptop gaming" disini bukan benar-benar "gaming laptop" seperti seri Alienware, MSI Dominator, Xenom Hercules / Phoenix, dan sebagainya yang memang dirancang dn diproduksi untuk bermain game, mengingat hampir tidak ada laptop gaming edition yg benar-benar murah, maka kita permudah saja penyebutan "laptop yg bisa dipakai main game" untuk disebut sebagai laptop gaming di dalam artikel ini.

Sebenarnya masih ada banyak GPU yg ingin saya cantumkan, tetapi menuliskan satu persatu GPU dan CPU yg biasa dipakai di laptop-laptop incaran saya akan membuat artikel ini terlalu panjang. Artikel selanjutnya akan membahas tentang daftar CPU serta GPU yg biasa digunakan sebagai parts dari masing-masing laptop.

Motherboard Socket LGA 1150 vs 1155

1150 vs 1155

Sebagaimana kita ketahui bersama, Intel Corp. telah meluncurkan LGA 1150, yang juga dikenal sebagai Socket H3, adalah sebuah socket mikroprosessor yg digunakan oleh Central Processing Unit (CPU) produksi Intel yg dibangun diatas desain teknologi mikroarsitektur Haswell. Selain itu, socket LGA 1150 juga dirancang untuk penggunaan suksesor Haswell, yaitu chip mikroarsitektur Broadwell.

Perbedaan_Intel_Motherboard_Socket_LGA_1150_vs_1155
Perbedaan Socket Motherboard Intel LGA 1155 vs 1150. images: www.chipell.com

LGA 1150 dirilis sebagai pengganti dari Socket LGA 1155, yg juga dikenal sebagai Socket H2. Socket LGA 1150 memiliki 1150 pin protruding yg terkoneksi dengan bantalan di bagian bawah procie. Sistem pendingin untuk socket LGA 1155 dan LGA 1156 sengaja dibuat kompatibel dengan LGA 1150, hal ini dikarenakan mereka memang memiliki jarak yg sama yakni 75mm diantara masing-masing lubang bautnya. Kebanyakan MoBo dengan socket LGA 1150 telah mendukung berbagai macam output Video seperti VGA, DVI ataupun HDMI – (tergantung dari model masing-masing produsen MoBo) dan rata-rata sudah mendukung teknologi Intel Clear Video.

Intel Socket LGA 1150 memperpanjang daftar socket yg pernah dirilis sebelumnya, mulai dari LGA 775, 1156, 1155, dan kini 1150.

Klik disini untuk membaca lebih detail tentang Perbedaan Intel Socket LGA 775, 1156, 1155, dan 1150.

Tentunya setiap Intel mengeluarkan produk baru, pasti ada teknologi baru yg menyertainya. Tetapi selain dari kompatibilitas sudah disebutkan di awal tadi, apa saja perbedaan lain dari kedua socket tersebut?

Perbedaan Motherboard Socket LGA 1150 vs 1155

Secara kualitas, semua motherboard ditentukan oleh masing-masing produsennya. Produsen MoBo terkenal semacam MSI, Gigabyte, ASUS, sudah jelas akan lebih berkualitas dibanding dengan merk tidak terkenal yg berharga jauh lebih murah. Anda bisa menilai kualitas sebuah motherboard bukan dari chipset atau socket yg digunakannya, tetapi cara paling gampang untuk membandingkan adalah melihat harga, sebagaimana harga yg berbeda juga akan membedakan kualitas komponen yg digunakan di atas board tersebut.

Tetapi di dalam motherboard yg sama-sama memakai Socket LGA 1150, masih bisa dibedakan lagi kelasnya dilihat dari chipset yg digunakan di masing-masing MoBo LGA 1150. Chipset tersebut membedakan berbagai fitur yg disematkan dalam tiap-tiap MoBo.

Klik disini untuk mengetahui: Perbedaan Chipset B85 H81 H87 Z87 Z97 pada Motherboard dengan Socket Intel LGA 1150.

Dari segi dukungan, jika Anda ingin merakit sebuah komputer baru, maka pilihan yang lebih tepat adalah socket LGA 1150, karena selain sudah mendukung seri CPU yg lebih baru, lebih cepat, serta lebih efisien dari Intel, tetapi chipset yg lebih baru juga memiliki fitur pendukung yg lebih banyak dibanding versi lamanya.

LGA 1155 adalah socket yg dirancang khusus untuk procie Intel berkode nama Ivy Bridge dan LGA 1150 diperuntukkan bagi Haswell (juga kompatibel dengan Broadwell). LGA 1150 yg lebih baru telah mendukung penggunaan procie Intel generasi keempat (4th generation) dari Intel core i5 dan i7, sedangkan LGA 1155 hanya mendukung versi lama dari kedua seri procie tersebut (Intel generasi ketiga).

berikut adalah sejumlah tips dalam Memilih Motherboard: Perbedaan H61, B75, dan Z77 di LGA 1155.
.
Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.

PowerBank Acer 6800mAh R-002 S55 Liquid Jade

Acer R-002

Acer_Liquid_Jade_S55_free_Flip_Case_Powerbank_6800mAh
Bulan lalu salah seorang adik sepupu saya yang berada di Bali meminta tolong kepada saya untuk membelikan smartphone dengan syarat processor QuadCore, RAM 2GB, dan kamera yang bagus. Akhirnya setelah browsing di internet, pilihannya jatuh pada smartphone Acer Liquid Jade S55.

Pada tanggal 1 Juni 2015 pukul 14:58 saya melakukan pemesanan Smartphone Acer Liquid Jade S55 - 16GB warna Hitam dengan bonus berupa Free Flip Case + Powerbank 6800mAh di situs penjualan Online Lazada.co.id dengan harga Rp 1.999.000 dengan potongan harga sebesar Rp 100.000,-. Keesokan harinya, tanggal 2 Juni 2015 jam 13:38 saya telah melakukan pembayaran melalui transfer bank dan mendapatkan notifikasi bahwa Pembayaran telah diterima oleh Lazada dan pesanan akan diproses ke pengiriman dalam waktu 3 hari kerja.

Setelah melakukan pembayaran, saya mendapat pemberitahuan dari pihak penjual MDP IT Store Palembang, bahwa bonus berupa flip case sedang tidak ada stock dan akan dikirimkan menyusul setelah mendapat pasokan stock baru dari pihak distributor Acer. Saya kemudian membalas SMS tersebut dan menyetujui opsi pengiriman flip case menyusul.

Barang kemudian dikirimkan oleh pihak penjual, dalam hal ini adalah MDP IT STORE, dikirim dari Palembang dengan menggunakan jasa layanan pengiriman JNE YES pada tanggal 03 Juni 2015 pukul 16:04 dan Smartphone Acer Liquid Jade S55 beserta bonus sebuah powerbank Acer 6.800mAh R-002 saya terima pada tanggal 05 Juni 2015 pukul 16:00. Disini saya merasa terkesan dengan pelayanan Lazada, MDP IT Palembang, dan JNE.

Saya juga cukup merasa puas dengan barang berupa Smartphone Acer Liquid Jade S55 yang sudah saya terima, dengan berkekuatan processor Quad Core 1.3 GHz dan Chipset Mediatek MT6582, dipadukan RAM sebesar 2GB menjamin smartphone ini berjalan cukup kencang di OS KitKat 4.4.2. Ditambah lagi kapasitas storage yang cukup lega, 16GB plus fitur super Anti Scratch - Gorilla Glass 3, saya merasa adik sepupu saya akan merasa senang saat memperoleh smartphone ini. Mungkin kekurangannya adalah desain yang kurang elegan dan layarnya yg cukup licin. Tetapi overall saya menilai smartphone ini cukup bagus.

Segera saja keesokan harinya saya meninggalkan komentar di halaman penjualan Lazada yg menyatakan bahwa saya puas dengan kondisi barang dan cepatnya pengiriman ketika berbelanja di JNE, sayangnya hingga hari ini komentar tersebut belum disetujui oleh admin situs penjualan online Lazada.

Masalah PowerBank Acer 6800mAh R-002

Powerbank_Acer_6800mAh_R-002_Liquid_Jade_S55_Flip_Case
Permasalahannya disini adalah, PowerBank Acer 6800mAh dengan kode R-002 yang diberikan sebagai bonus dari pembelian tersebut diatas tidak bekerja semestinya. Saat disambungkan dengan kabel putih bertuliskan Mi di head nya bawaan dari dalam kotak powerbank, lampu LED berwarna merah yg menandakan bahwa powerbank sedang di-charge tidak menyala sama sekali.

Setelah saya mencoba mengganti dengan kabel charger asli bawaan paket penjualan smartphone, lampu LED warna merah memang menyala, tetapi masalah tidak berhenti sampai disana saja. Saya kemudian membiarkan powerbank tersebut di charge selama kira-kira 6 jam. Saat saya membalik kabel untuk digunakan charging smartphone, Acer Liquid Jade S55 itu tidak menunjukkan sedang di-charge. Tidak ada daya listrik yang masuk. Saya sudah mencoba berbagai opsi, termasuk menukar kabel dengan beberapa kabel lainnya, atau mencoba charging menggunakan smartphone lainnya, tetapi tetap saja powerbank tersebut tidak bisa charging.

Saya merasa kecewa dengan produk yang dijual melalui Lazada ini. Walaupun diberi keleluasaan untuk menukarkan barang selama 14 hari kerja, saya sudah terlalu malas untuk ribet memaketkan barang dan ke JNE untuk mengirimkan, lalu menunggu lagi, hanya gara-gara powerbank saja.

Sebagai tambahan informasi, sudah 14 hari alias dua minggu sejak barang diterima, saya juga masih belum mendapatkan kabar dari pihak MDP IT Store Palembang tentang kapan bonus berupa flip-case untuk Acer Liquid Jade S55 dapat dikirimkan.

Mengenal Jim Beglin, Jon Champion, dan Jon Kabira Komentator di Game PES dan WE

Jon Kabira

Jon Kabira
Ketika zaman kejayaan PlayStation (PS) 1 dan PS 2, Anda yg hobby memainkan game Winning Eleven (WE) di tahun 1998 hingga 2004 mungkin akrab dengan kalimat komentator berbahasa Jepang yg mengatakan "wan tu..." (saat melakukan trik one-two) ataupun "shyutooo...!!!" ketika menendang bola ke arah gawang.

Ya, itu adalah ciri khas komentator di game WE tersebut. Komentator tersebut adalah Jon Kabira. Lahir pada tanggal 1 November 1958 di Naha - Okinawa, Jepang, ia adalah salah satu presenter, penyiar radio, narator, dan komentator yg sering diafiliasikan dengan Sony Music Artists. Ia sangat terkenal di Jepang dengan berpartisipasi di berbagai iklan TV, acara Televisi, dan pekerjaan yg terkait dengan audio-visual.

Jon Kabira sebagai pengisi narasi komentator di PES 2014.
Jon Kabira sebagai pengisi narasi komentator di PES 2014.

Suara dari Kabira ini sangat dikenal tidak hanya di Jepang atau Asia saja, bahkan hingga ke Afrika, Amerika dan Eropa oleh karena narasinya sebagai komentator di seri video game Winning Eleven keluaran Konami. Namun tidak banyak orang yang mengetahui sosok asli dari komentator legendaris ini. Di edisi World Soccer: Winning Eleven 2011, dia menjadi komentator bersama ex pemain sepakbola Jepang, Tsuyoshi Kitazawa dan Hiroshi Nanami.

Jim Beglin dan Jon Champion

Di edisi Winning Eleven terakhir (2015), bahkan ada tambahan opsi bahasa China selain dari Bahasa Jepang sebagai narasi komentator saat sedang bertanding. Tetapi jika Anda memilih untuk bahasa Inggris, maka Anda akan mendengar nama Jon Champion dan Jim Beglin yg bercuap-cuap menemani pertandingan Anda. Telinga Anda akan sering mendengar sebutan kalimat: "I'm Jon Champion, and my co-commentator Jim Beglin.."

Jim Beglin dan Jon Champion sebagai komentator di seri video game Pro Evolution Soccer.
Jim Beglin dan Jon Champion sebagai komentator di seri video game Pro Evolution Soccer.

Setiap kali akan memulai pertandingan di PES, Anda akan mendengar kalimat percakapan seperti ini:
  • Jon: "I'm Jon Champion and alongside me, is Jim Beglin.."
  • Jim: "Hi Jon, hello everyone.."
Terasa familiar bukan? (khusus penggila PES) Hingga kini di PlayStation 4 yang memainkan game Pro Evolution Soccer 2015, Anda akan tetap mendengar suara dari komentator Jim Beglin dan Jon Champion.

Saya sendiri masih lebih menyukai gameplay PES 2013 dan tetap memainkannya hingga sekarang. Baru-baru ini saya menginstall Patch versi 7.0 yang di download dari Kuyhaa-Android.blogspot.com dan berhasil memainkan, walaupun harus klik "Run as Administrator" terlebih dahulu di file PES2013.exe saat akan memainkannya.
Tag : ,

Review Processor Intel Core i7-2600 (8M Cache, up to 3.80 GHz)

Core i7-2600

Procie ini dirilis oleh Intel sudah cukup lama, yakni pada quartal pertama tahun 2011 atau tepatnya di bulan Januari. Berjalan pada instruction set 64-bit dengan teknologi Intel® Smart Cache berkapasitas 8MB diproses dengan litography 32 nm, dan merupakan bagian dari mikroarsitektur Intel yang berkode Sandy Bridge, CPU Intel Core generasi kedua.

CPU yang berjalan pada intel Socket LGA 1155 ini memiliki frekuensi 3.4 GHz yang dapat di overclock ataupun berjalan dalam mode turbo speed hingga kecepatan 3.80 GHz. Turut dibenamkan pula Graphic Processing Unit (GPU) built-in Intel HD Graphics 2000 yang dikenal cukup buruk dalam penggunaan multimedia. Banyak forum Enthusiast yang mengeluhkan bahwa mereka tidak akan menemukan kepuasan saat menggunakan GPU built-in dari CPU ini. Intel juga telah mempersiapkan procie i7-2600 untuk mendukung penggunaan 4 slot DIMMS dari memory type DDR3-1333. Procie ini cukup boros daya dengan mengkonsumsi energi listrik sebesar 95 W, tetapi untuk versi "K" di klaim lebih hemat sehingga terjadi penurunan konsumsi daya ke angka 65 W (walaupun tidak banyak orang yang perduli dengan konsumsi daya dari sebuah CPU).

Kinerja

Menariknya, walaupun rilisan lama yang sudah bertahan selama lebih dari empat tahun, processor ini masih menempati peringkat secara keseluruhan di posisi 147 ditilik dari nilai benchmark yang dilakukan oleh Passmark Software hari ini (10/06/2015). Ia mendapat score benchmark 8.269 bersaing dengan AMD FX-8350 Eight-Core yang memperoleh angka 8.980. Setidaknya procie ini masih lebih kencang daripada Intel Core i5-3570K ataupun Intel Core i5-2500K.

Saat dipasangkan dengan VGA NVidia GeForce GTX670 VRAM 2GB dengan RAM 8GB,
procie Intel i7-2600 ini mampu meraih angka 60 fps. Sangat memuaskan!

Saat diuji dengan menggunakan game yang tergolong baru dirilis (11 November 2014) dan bisa dikatagorikan "cukup berat" yaitu game balap "The Crew" besutan UBISOFT yang juga dibuat untuk platform PlayStation® 4, procie ini dipasangkan dengan Video Graphic Card / VGA Card NVIDIA GeForce GTX670 atau AMD Radeon 7870 (dengan VRAM 2GB berikut Shader Model versi 5.0 atau yang lebih tinggi), RAM 8GB, berjalan di sistem operasi Windows 8/8.1 (64bit tentunya) Intel Core i7-2600 ini memperoleh hasil yang cukup memuaskan yakni di angka 60 frame per second (fps), setara dengan raihan AMD FX-8150 @ 3.6 GHz.

Memory (RAM) Support

Walaupun sudah tergolong cukup lama, CPU Sandy Bridge ini masih sangat memuaskan dibanding beberapa processor Ivy Bridge, Haswell, ataupun Broadwell yang kelasnya lebih rendah. Tetapi perlu diingat bahwa CPU/Processor/Procie Intel Core i7-2600 ini tidak mendukung penggunaan type Memory DDR3 1600Mhz sebagaimana Intel sudah menyebutkan di situs resminya bahwa CPU ini tidak support RAM DDR3 1600MHz, tetapi menggunakan 1600MHz RAM yang berjalan pada kecepatan 1333MHz juga masih dimungkinkan karena system akan secara otomatis menyesuaikan kepada kecepatan yang didukung (1333Mhz). Intel i7 2600 sejatinya sanggup mendukung hingga kecepatan 2133 MHz apabila kita menjalankan memory scalling (baca referensi di bawah "Core i7 Memory Scaling: From DDR3-800 to DDR3-1600"), tetapi Anda memerlukan pengetahuan yang cukup untuk memperbesar konsumsi daya sebagai akibat dari memory scaling tersebut. Keuntungan dari menggunakan RAM yang lebih kencang tentunya untuk meningkatkan bandwidth dan mengurangi latency.

Walaupun menurut situs resmi Intel, procie Core i7 sebenarnya hanya mendukung penggunaan RAM DDR3-1066 dan 1333 saja. Tetapi faktanya, seri i7 sebenarnya mampu menjalankan RAM hingga kecepatan DDR3-1600 dengan tambahan voltase tertentu, sayangnya Intel menyarankan untuk tidak melakukan hal ini demi menghindari kerusakan pada memory controller Core i7. Jika Anda tetap memutuskan untuk menginstall RAM DDR3-1600MHz di sebuah Motherboard Dual Channel, maka konfigurasi di BIOS akan tetap menunjukkan angka 1333MHz.

Penggunaan RAM DDR3 1600MHz yang disandingkan dengan Intel Core i7-2600 juga tergantung dari Motherboard yang Anda gunakan, jika MoBo tersebut mendukung pemakaian RAM hingga kecepatan 1600MHz, maka tidak masalah apabila Anda memutuskan untuk menggunakan RAM DDR3-1600mhz. Lucunya, situs Intel Motherboard Support System misalnya untuk MoBo DH67VR, menampilkan hasil pengujian penggunaan RAM DDR3-1600 MHz pada sebuah Motherboard yang diklaim hanya mendukung penggunaan RAM DDR3 1333 MHz and DDR3 1066 MHz SDRAM DIMMs saja. Untuk membuktikannya Anda bisa membaca disini: Intel® Desktop Board DH67VR System Memory. Baca di bagian paling bawah di tabel "Tested memory". Aneh bukan?

Referensi

  1. Passmark - Intel Core i7-2600 @ 3.40GHz;
  2. ARK - Intel® Core™ i7-2600 Processor (8M Cache, up to 3.80 GHz);
  3. Wikipedia - List of Intel Core i7 microprocessors;
  4. Core i7 Memory Scaling: From DDR3-800 to DDR3-1600
  5. berbagai sumber lainnya di internet.

Tentang ATI Technologies, Produsen VGA

ATI Technologies

Kantor_Pusat_ATI_Technologies_Inc
ATI Technologies Inc., adalah sebuah perusahaan korporasi di bidang teknologi semikonduktor yang bermarkas di Markham, Ontario, Kanada, yang meng-khususkan perusahaannya dalam pengembangan chipset dan unit pemroses gambar (GPU / Graphic Processing Unit).

Pertama kali didirikan di tahun 1985 dengan nama Array Technology Inc., perusahaan ini kemudian dirilis secara publik sejak tahun 1993. Advanced Micro Devices (atau yang lebih dikenal sebagai AMD) mengakusisi ATI pada tahun 2006. Sebagai salah satu perusahaan produsen semikonduktor terbesar di dunia, ATI telah memiliki fasilitas penelitian dan pengembangan dan men-subkontrakkan proses produksi dan perakitan dari semua produknya. Tetapi dengan penuruan dan kebangkrutan dari salah satu pesaing yg bernama 3dfx pada tahun 2000, ATI dan rival abadi mereka Nvidia muncul sebagai dua pemain utama dalam industri prosesor grafis yang saling bersaing untuk menjadi produsen VGA terbaik, dan pada akhirnya memaksa perusahaan lain yang lebih kecil hanya menjadi pelengkap saja.

Akusisi yang dilakukan AMD terhadap ATI pada tahun 2006 adalah sebuah strategi penting untuk pengembangan strategis divisi processor komputer mereka, yang berusaha menggabungkan fungsi pengolah data dengan fungsi pengolah grafis dalam satu chip saja. Hal ini dilakukan untuk menjaga persaingan dengan Intel (rival utama AMD) yang telah mengembangkan GPU terintegrasi dengan diluncurkannya Intel HD series. Sejak tahun 2010, prosesor grafis AMD telah berhenti menggunakan merk dagang ATI.

Seri Radeon

Radeon Series – ATI meluncurkan lini produk Radeon sejak tahun 2000 sebagaimana juga kartu akselerator 3D versi consumer, dan menjadi lini produk unggulan untuk bersaing dengan kompetitor utama mereka yaitu NVidia GeForce.

Raedon DDR yang asli sebenarnya adalah akselerator 3D pertama ATI yang mendukung penggunaan DirectX 7, memperkenalkan perangkat keras mereka yang bernama TL Engine. ATI seringkali memproduksi versi 'Pro' dengan clock speed yang lebih tinggi dari versi yang sudah ada, dan kadang kala versi 'XT' yang berarti eXTreme, dan bahkan akhir-akhir ini versi tersebut diperbaharui dengan istilah penamaan 'XT Platinum Edition (PE)' dan versi 'XTX'. Radeon series adalah dasar bagi banyak board ATI All-In-Wonder.
  1. Mobility Radeon

    Sebuah seri dari versi yang dioptimalkan dari chip grafis untuk penggunaan perangkat mobile seperti Laptop dan sejenisnya. Mereka memperkenalkan berbagai inovasi seperti misalnya modularized RAM chips, akselerasi DVD (MPEG2), notebook GPU card sockets, dan teknologi "PowerPlay" terkait power management. AMD baru-baru ini memperkenalkan versi yang kompatibel dengan DirectX 11 untuk procie mobile nya.

  2. AMD CrossFireX

    Teknologi ini sebenarnya adalah strategi ATI untuk merespon platform SLI yang diperkenalkan oleh NVidia. Ia mengizinkan penggunaan video card sekunder dan dual PCI-E motherboard yang dipasangkan dengan Chipset ATI Crossfire-compatible, sehingga kemampuan untuk mengkombinasikan performa dari kedua (atau ketiga dan keempat) kartu grafis tersebut dapat meningkatkan kinerja dalam sebuah pilihan rendering yg bervariasi. Ada pilihan diantara tambahan kartu grafis PCI-E video card yang ditancapkan pada slot ketiga PCI-E slot untuk gaming physics, ataupun pilihan lainnya untuk melakukan physics di video card yang kedua.

Referensi

  1. ATI Technologies - Wikipedia, the free encyclopedia dengan alamat http://en.wikipedia.org/wiki/ATI_Technologies

Apa itu 3D Rendering?

3D Rendering

3D Rendering adalah proses dari memproduksi sebuah gambar berdasarkan data tiga dimensi yg tersimpan dalam sebuah komputer.

proses_3D_rendering_komputer
3D rendering adalah sebuah proses kreatif yg mirip seperti fotografi atau sinematografi, karena Anda akan memberi pencahayaan pada gambar dan mengatur adegan lalu memproduksi sebuah ataupun beberapa gambar. Tidak seperti fotografi biasa, adegan yg digambarkan biasanya imajiner, dan semua yg muncul dalam 3D rendering perlu untuk diciptakan (atau diciptakan ulang) dalam sebuah komputer sebelum gambar tersebut bisa di render. Ini melibatkan banyak pekerjaan yg harus dilakukan, tetapi mengizinkan renderer jumlah kontrol kreatif yg tidak terbatas terhadap apa yg akan muncul di dalam adegan, atau bagaimana gambar tersebut dijabarkan.

Data tiga dimensional yg digambarkan bisa berupa sebuah adegan lengkap termasuk dengan model geometris dari tiga objek dimensional seperti gedung-gedung, pemandangan, atau karakter animasi - seniman 3D perlu untuk menciptakan adegan ini dengan Modeling dan Animasi sebelum Rendering dapat dilakukan. Proses 3D rendering menggambarkan adegan tiga dimensional ini sebagai sebuah gambar, diambil dari lokasi dan persektif yg telah ditentukan. Proses rendering bisa termasuk simulasi dari pencahayaan realistis, bayangan, atmosfir, warna, tekstur, dan efek optikal seperti misalnya pembiasan cahaya ataupun efek buram yg terlihat pada objek yg bergerak cepat, atau bahkan rendering bisa tidak terlihat realistis sama sekali dan memang dirancang untuk ditampilkan sebagai lukisan ataupun gambar abstrak.

Perbedaan 3D Rendering Dengan Film 3D

Shrek_render_time_3D_rendering_bottom
CATATAN: Walaupun sama-sama disebut sebagai "3D," gambar-gambar yg diuraikan diatas tidak sama dengan "Film 3D" yg pernah populer pada tahun 1950-an, dimana film tersebut menciptakan ilusi kedalaman dalam layar bioskop ketika para penonton memakai kacamata khusus. Grafis komputer 3D disebut sebagai "3D," karena cara bagaimana mereka dibuat, menggunakan model komputer 3D untuk menampilkan adegan sebelum mereka di render. Walaupun grafis 3D bisa juga digunakan dalam sebuah film 3D (dan jika mereka menjadi populer lagi), hasil akhir dari 3D rendering biasanya adalah sebuah gambar dua dimensi biasa, dan gambar-gambar ini bisa digunakan dalam gambar tercetak, di internet, media interaktif, televisi, atau bahkan di film-film.

Rendering kadang kala membutuhkan waktu yg sangat lama, bahkan walaupun dilakukan di sebuah komputer yg super kencang. Ini dikarenakan perangkat lunak yg digunakan pada dasarnya memotret ulang setiap pixel dari gambar tersebut, dan hasil kalkulasi dari hanya sebuah pixel bisa melibatkan sebuah kalkulasi lainnya yg lebih rumit, melacak pendaran cahaya sebagaimana mereka akan terpantul dalam sebuah adegan 3D. Untuk merender semua bingkai gambar dalam sebuah film animasi (seperti misalnya Shrek, Monsters Inc., atau Ice Age) bisa melibatkan ratusan komputer yg bekerja tanpa henti dalam waktu berbulan-bulan atau bahkan tahunan.

Semua studio film besar Hollywood secara umum menggunakan Linux untuk animasi dan efek visual. Mungkin tidak ada instalasi komersial Linux yg lebih besar dari miliki studio DreamWorks Animation, dengan lebih dari 1,000 dekstop PC Linux dan lebih dari 3,000 CPU server CPU.

"Untuk film animasi Shrek 3, kami akan menghabiskan lebih dari 20 juta jam render CPU hanya untuk membuat film ini.", kata CTO DreamWorks Animation, Ed Leonard. "Setiap film yg kami produksi terus menekan hingga ke batas akhir kemampuan PC dari apa yg mampu dihasilkan oleh proses rendering, sehingga membutuhkan lebih banyak dan lebih banyak lagi kekuatan komputer.". Semua orang tahu jika hukum Moore memprediksi bahwa kekuatan komputer akan meningkat dua kali lipat setiap satu setengah tahun, dan sejumlah referensi menyebutkan bahwa jam render CPU untuk fitur kartun animasi akan berlipat ganda setiap tiga tahun. Pada tahun 2001, film Shrek pertama menghabiskan sekitar 5 juta jam render CPU. Pada tahun 2004, Shrek 2 menghabiskan lebih dari 10 juta jam render CPU. Dan pada tahun 2007, Shrek 3 menggunakan 20 juta CPU render hours.

Referensi

  1. artikel tahun © 2002 oleh Jeremy Birn untuk 3dRender.com. Sumber: http://www.3drender.com/glossary/3drendering.htm
  2. Dreamworks Animation: Linux Feed an Ogre. Link: http://www.linuxjournal.com/article/9653
Tag : ,

VGA NVidia Terbaik Dengan Harga Dibawah Sejuta Rupiah

VGA Terbaik

VGA_ZOTAC_GTX_650_AMP_Edition_Video_Graphic_Accelerator_Card
Setiap orang yg sedang merakit komputer biasanya menginginkan rig nya tersusun dari parts yg terbaik, tetapi bagi mereka yg memiliki budget terbatas, pilihan yg tersedia pun ikut menjadi sangat terbatas. Pada akhirnya mereka yg termasuk dalam katagori itu akan mencari yg terbaik tapi sekaligus juga termurah.

Misalnya saat sedang mencari pengolah grafis yg terbaik untuk komputer gaming kelas menengah, tetapi dengan harga di bawah sejutaan. Tidak usah khawatir, pilihan seperti itu memang sejatinya benar-benar ada.

Salah satu pilihan yg menonjol adalah Zotac GTX 650 1GB 128Bit DDR5 yg dibanderol seharga Rp 909.000,- saja. Ini tentunya adalah pilihan yg menarik untuk sebuah VGA tingkat menengah dan masuk katagori High-End dalam Video Card Benchmark chart versi Passmark Software, dijual seharga kurang dari satu juta rupiah. Tetapi apakah ia cukup layak untuk menempati satu slot ekspansi di rig PC Gaming Anda? Keputusan tetap ada di tangan Anda.

Daftar VGA NVidia dengan harga dibawah sejuta

Berikut ini adalah daftar lengkap 87 buah Video Graphic Accelerator (VGA / Graphic Card / Video Card) merk NVidia dari berbagai merk produsen dengan harga dibawah 1 juta rupiah, lengkap dengan spesifikasinya:

NoMerkGPUSeriVRAMBuswidthData RateHargaBenchmarkVideo Card Chart
1ZotacNvidiaGTX 6501Gb128BitDDR5Rp909,0001833Medium To High-End
2BiostarNvidiaGT 7402Gb128BitDDR3Rp975,0001572Medium To High-End
3ManliNvidiaGTS 4501024Mb128BitDDR5Rp860,0001551Medium To High-End
4ManliNvidiaGTS 4501Gb128BitDDR3Rp844,0001551Medium To High-End
5ManliNvidiaGTS 4502Gb128BitDDR3Rp925,0001551Medium To High-End
6PixelViewNvidiaGT 6401Gb128BitDDR3Rp700,0001287Medium-End
7PixelViewNvidiaGT 6402Gb128BitDDR3Rp850,0001287Medium-End
8ASUSNvidiaGT 730 Keppler2Gb64BitDDR3Rp753,000925Low to Medium-End
9ASUSNvidiaGT 730 Tweak2Gb128BitDDR3Rp864,000925Low to Medium-End
10Axle/CardexNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp769,000925Low to Medium-End
11BiostarNvidiaGT 7301Gb128BitDDR3Rp720,000925Low to Medium-End
12BiostarNvidiaGT 7301Gb128BitDDR5Rp912,000925Low to Medium-End
13BiostarNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp844,000925Low to Medium-End
14Digital AllianceNvidiaGT 7301024Mb64BitDDR3Rp639,000925Low to Medium-End
15Digital AllianceNvidiaGT 7301Gb64BitDDR5Rp730,000925Low to Medium-End
16Digital AllianceNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp759,000925Low to Medium-End
17Digital AllianceNvidiaGT 7302Gb64BitDDR3Rp721,000925Low to Medium-End
18GigabyteNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp939,000925Low to Medium-End
19Inno 3DNvidiaGT 7301Gb64BitDDR5Rp691,000925Low to Medium-End
20Inno 3DNvidiaGT 7302GbDDR3Rp730,000925Low to Medium-End
21ManliNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp873,000925Low to Medium-End
22MSINvidiaGT 7301GbDDR5Rp834,000925Low to Medium-End
23MSINvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp873,000925Low to Medium-End
24PixelViewNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp766,000925Low to Medium-End
25ZotacNvidiaGT 7301Gb64BitDDR5Rp811,000925Low to Medium-End
26ZotacNvidiaGT 7302Gb128BitDDR3Rp877,000925Low to Medium-End
27Axle/CardexNvidiaGTS 2501Gb256BitDDR3Rp984,000902Low to Medium-End
28ASUSNvidiaGT 4401Gb128BitDDR3Rp678,000825Low to Medium-End
29ManliNvidiaGT 4401024Mb128BitDDR5Rp770,000825Low to Medium-End
30AFOXNvidiaGT 6301024Mb128BitDDR3Rp753,000743Low to Medium-End
31AFOXNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp769,000743Low to Medium-End
32AFOXNvidiaGT 6304Gb128BitDDR3Rp818,000743Low to Medium-End
33ASUSNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp886,000743Low to Medium-End
34ASUSNvidiaGT 6301Gb64BitDDR3Rp662,000743Low to Medium-End
35ASUSNvidiaGT 6302Gb64BitDDR3Rp772,000743Low to Medium-End
36Axle/CardexNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp776,000743Low to Medium-End
37Axle/CardexNvidiaGT 6304Gb128BitDDR3Rp965,000743Low to Medium-End
38BiostarNvidiaGT 6301Gb128BitDDR3Rp707,000743Low to Medium-End
39BiostarNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp808,000743Low to Medium-End
40BiostarNvidiaGT 6304Gb128BitDDR3Rp916,000743Low to Medium-End
41Digital AllianceNvidiaGT 6301Gb128BitDDR3Rp665,000743Low to Medium-End
42Digital AllianceNvidiaGT 6301Gb128BitDDR5Rp903,000743Low to Medium-End
43Digital AllianceNvidiaGT 6301Gb128BitDDR5Rp903,000743Low to Medium-End
44Digital AllianceNvidiaGT 6301Gb64BitDDR3Rp648,000743Low to Medium-End
45Digital AllianceNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp743,000743Low to Medium-End
46Inno 3DNvidiaGT 6302GbDDR3Rp704,000743Low to Medium-End
47ManliNvidiaGT 6301Gb128BitDDR3Rp704,000743Low to Medium-End
48ManliNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp756,000743Low to Medium-End
49ManliNvidiaGT 6304Gb128BitDDR3Rp978,000743Low to Medium-End
50MSINvidiaGT 6301024MbDDR3Rp769,000743Low to Medium-End
51PixelViewNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp730,000743Low to Medium-End
52PixelViewNvidiaGT 630 Kepler1Gb64BitDDR3Rp510,000743Low to Medium-End
53WinfastNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp854,000743Low to Medium-End
54ZotacNvidiaGT 6302Gb128BitDDR3Rp779,000743Low to Medium-End
55BiostarNvidiaGT 2401Gb128BitDDR3Rp540,000649Low to Medium-End
56BiostarNvidiaGT 4301Gb128BitDDR3Rp590,000649Low to Medium-End
57BiostarNvidiaGT 4302Gb128BitDDR3Rp652,000649Low to Medium-End
58ManliNvidiaGT 4302Gb128BitDDR3Rp650,000649Low to Medium-End
59ManliNvidiaGT 4301Gb128BitDDR3Rp570,000649Low to Medium-End
60ASUSNvidiaGT 4202Gb128BitDDR3Rp691,000440Low-End
61Digital AllianceNvidiaGT 4201024Mb128BitDDR3Rp606,000440Low-End
62Digital AllianceNvidiaGT 4202048Mb128BitDDR3Rp675,000440Low-End
63GigabyteNvidiaGT 4202Gb128BitDDR3Rp792,000440Low-End
64ManliNvidiaGT 4201Gb128BitDDR3Rp658,000440Low-End
65ManliNvidiaGT 4202Gb128BitDDR3Rp740,000440Low-End
66ZotacNvidiaGT 4201Gb128BitDDR3Rp567,000440Low-End
67BiostarNvidiaGT 6201Gb64BitDDR3Rp547,000434Low-End
68BiostarNvidiaGT 6202Gb128BitDDR3Rp671,000434Low-End
69BiostarNvidiaGT 6202Gb64BitDDR3Rp626,000434Low-End
70GigabyteNvidiaGT 6201Gb64BitDDR3Rp727,000434Low-End
71BiostarNvidiaGT 5201Gb64BitDDR3Rp554,000365Low-End
72Inno 3DNvidiaGT 5201GbDDR3Rp385,000365Low-End
73Axle/CardexNvidiaGT 2201Gb128BitDDR2Rp495,000361Low-End
74BiostarNvidiaGT 6101Gb64BitDDR3Rp502,000356Low-End
75BiostarNvidiaGT 6102Gb64BitDDR3Rp566,000356Low-End
76Digital AllianceNvidiaGT 6101Gb64BitDDR3Rp551,000356Low-End
77Digital AllianceNvidiaGT 6102Gb64BitDDR3Rp616,000356Low-End
78ASUSNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp394,000300Low-End
79Axle/CardexNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp391,000300Low-End
80BiostarNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp365,000300Low-End
81Digital AllianceNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp392,000300Low-End
82GigabyteNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp456,000300Low-End
83Inno 3DNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp381,000300Low-End
84ManliNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp404,000300Low-End
85MSINvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp404,000300Low-End
86PixelViewNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp378,000300Low-End
87ZotacNvidiaGT 2101Gb64BitDDR3Rp388,000300Low-End

Katagori VGA

Penggolongan masing-masing katagori VGA ditentukan dari hasil pengujian Benchmark yg dilakukan oleh Passmark Software, dan dikelompokkan berdasarkan range yg saya atur sendiri yaitu:

BenchmarkKatagori
0 - 500Low-End Video Card
501 - 1000Low to Medium-End Video Card
1001 - 1500Medium-End Video Card
1501 - 2000Medium to High-End Video Card
2001 ke atasHigh-End Video Card

Sedangkan untuk pengklasifikasian masing-masing VGA Card yg sudah pernah saya lakukan riset kecil-kecilan via internet adalah sebagai berikut:

KatagoriMerk VGA NvidiaUraian Alasan Penggolongan
Tier 1 (Kelas Paling Atas)ASUS, GAINWARD, GIGABYTE, LEADTEK (QUADRO, WINFAST), MSILatar belakang perusahaan jelas, reputasi bagus, teruji, melantai di bursa saham, dari segi penjualan produk menduduki peringkat teratas, purna jual bagus
Tier 2 (Menengah ke Atas)BIOSTAR, DIGITAL ALLIANCE, SPARKLE, ZOTACLatar belakang perusahaan jelas, reputasi lumayan bagus, seri produk cukup lengkap, purna jual lumayan (khusus Digital Alliance sudah terbukti secara pribadi)
Tier 3 (Menengah ke Bawah)AFOX, AXLE, PIXELVIEWLatar belakang perusahaan lumayan jelas, tingkat reputasi menengah, seri produk lumayan lengkap, purna jual tidak diketahui.
Tier 4 (Kelas terbawah)FORSA, GALAXY, INNO, MANLI,Latar belakang perusahaan kurang jelas, situs resmi tidak informatif, kualitas produknya kurang bisa dipercaya walaupun versi produk yg dijual lumayan lengkap.

Ulasan selengkapnya bisa dibaca disini: Tips dalam Memilih Merk VGA NVidia terbaik.

Referensi

  • * Semua penggolongan baik produk maupun merk diatas adalah versi saya sendiri dan tidak untuk diperdebatkan.
  • ** Benchmark diambil dari situs: http://www.videocardbenchmark.net/
  • *** Harga diambil dari situs: http://www.rakitan.com/simulasi.php
  • PERINGATAN: Apabila Anda hendak mengutip isi artikel ini untuk dipublikasikan lagi di situs/blog lain, harap mencantumkan sumber melalui link yg menuju ke URL halaman blog ini. Terima kasih.

Perbedaan Winning Eleven (WE) dengan Pro Soccer Evolution (PES)

WE vs PES

Pro_Evolution_Soccer_PES_2015_PlayStation_PS4
Apa sebenarnya perbedaan diantara Winning Eleven dengan Pro Evolution Soccer (PES)?
Jawabannya secara garis besar adalah TIDAK ADA. Ya, sebenarnya tidak benar-benar sama persis, sebagaimana dua-duanya adalah game yg sama, tetapi ada sejumlah perbedaan kunci yg membuat mereka harus diberi judul game yg berbeda: PES adalah reinkarnasi dari Winning Eleven.

Untuk menelaah lebih lanjut, kita harus kembali ke zaman kejayaan PlayStation 2, dimana mereka yg beruntung tinggal di Jepang memiliki kesempatan untuk mencicipi terlebih dahulu versi Winning Eleven yg baru dirilis, sementara mereka yg tinggal di Eropa, harus menunggu untuk versi Pro Evolution Soccer yg dirilis setelahnya. Walaupun di masa kini, dua judul game yg berbeda tapi isinya sama ini diluncurkan selalu berbarengan.

World_soccer_Winning_Eleven_2015
World Soccer Winning Eleven 2015, dengan Keisuke Honda sebagai covernya.

Winning Eleven pertama kali diluncurkan untuk konsol game Playstation via cakram pada awal tahun 1995 dan telah berkembang dari tahun ke tahun (masih melalui platform yg sama) hingga ke Winning Eleven 2014-2015. Kini Anda bisa menemukan game Winning Eleven diantara semua konsol game mulai dari Nintendo Wii, PlayStation 3 dan 4, PlayStation Portable (PSP) dan Xbox 360 sementara Konami masih memproduksi versi Personal Computer (PC) bahkan juga versi Winning Eleven untuk PS2 bagi mereka yg belum bisa move on dari tahun 90-an!

Perbedaan WE dengan PES

Winning_Eleven_Region_3_Edisi_Spesial_Jepang
Lalu apa perbedaan mendasar yg membedakan antara PES dengan Winning Eleven?
Ya, selain dari tanggal peluncuran yg berbeda tipis dan variasi bahasa (walaupun Anda bisa mengubah bahasa di game Winning Eleven ke dalam bahasa Inggris), adalah region. Winning Eleven (WE) adalah game yg ditujukan untuk region 3 (Jepang dan Asia). Sebagaimana yg mungkin telah Anda ketahui, secara umum ada 3 kode regional dalam hal peluncuran game: yakni region 1, 2, and 3. Dua regional awal, yaitu 1 dan 2, Pro Evolution Soccer mempertahankan judul aslinya, sementara di Winning Eleven adalah judul yg ditujukan khusus untuk region 3.

Mengapa demikian? Selain dari deskripsi singkat yg indah tentang sepakbola (Winning Eleven = Kesebelasan Pemenang), sebuah teori menyatakan bahwa merk dagang Winning Eleven sudah terlanjur melekat pada benak gamers di wilayah Asia, sementara itu nama yg sama tidak memiliki keberuntungan dari sudut pandang kesuksesan di luar Asia, dimana mereka bersaing ketat dan harus menerima kenyataan bahwa game FIFA lebih disukai oleh penggemar Amerika dan Eropa. Oleh karena itu, Konami memilih nama Pro Evolution Soccer sebagai merk dagang di region 1 dan dua, lalu tetap menggunakan nama merk dagang Winning Eleven di wilayah Asia. Sehingga kesimpulannya, Winning Eleven (WE) pada dasarnya adalah Pro Evolution Soccer dengan sejumlah perubahan yg hanya tersedia secara ekslusif untuk penggemarnya di pasar Jepang dan Asia.

Region Server Lock

Tetapi Anda harus tahu bahwa ada region server lock pada aplikasi Winning Eleven, Konami melarang akses pada online server berdasarkan regionnya. Artinya para pemain WE tidak akan bisa bertanding melawan pemain PES di region 1 dan 2, begitu juga sebaliknya. Jadi untuk pengalaman online yg terbaik, sangat disarankan bagi Anda untuk memainkan game berdasarkan region dimana Anda berada.

Sementara itu, bicara tentang region lock, Jepang memiliki versi Winning Eleven tersendiri. WE versi Jepang ini juga memiliki server online tersendiri, terpisah dari semua pemain WE di region 3. Selain itu WE Jepang ini memiliki sebuah liga J-League DLC khusus dan ekslusif yg tidak tersedia di versi region lainnya. Entah mengapa Konami memilih untuk tidak menyediakan J-League DLC di seluruh region membuat saya bertanya-tanya, padahal Konami menyertakan Liga Brazil dan Liga Argentina yg full berlisensi tetapi tidak ada J-League? Justru seharusnya mereka menyediakan J-League yg akan bermanfaat bagi liga mereka sendiri dan mendapat perhatian dari kalangan penggemar bola di seluruh dunia. Kesempatan bagi mereka untuk memperkenalkan para pemain Jepang yg berlaga di liga mereka sendiri. Bukankah itu akan bermanfaat bagi persepakbolaan Jepang?

Referensi

  1. http://winningeleven.asia/we-vs-pes
  2. http://soccerlens.com/winning-eleven-pes-whats-the-difference/71953/
Tag : , ,

- Copyright © AdrianoizE - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -